HUKUM DAN FADHILAH IBADAH UMROH

Ada beberapa pendapat dalam permasalahan ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ibadah umrah adalah wajib bagi yang telah mampu sama seperti ibadah haji. Hanya saja bedanya kalau ibadah haji adalah rukun dari rukun Islam yang ke lima.

Barangsiapa yang meninggalkan haji dalam keadaan dia mampu maka dia berdosa, begitupula dalam pendapat yang pertama ini bahwa umroh hukumnya wajib untuk yang pertama sebagaimana ibadah haji.

Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih Al Imam Al Bukhari rahimahullahu ta’ala. Di dalam shahihnya beliau meletakkan bab : Tentang Wajibnya Umroh dan Keutamaannya.

Pendapat ini juga dari kalangan sahabat dipilih oleh Abdullah Umar dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Juga dari kalangan Tabi’in Al Imam Atha’, Thawus, Mujahid, Al Hasan al Bashri, Ibnu Sirrin. Kemudian dari ulama setelahnya adalah imam Syafi’i dan Ahmad.

Kemudian Ulama berikutnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, kemudian Asy Asyaikh Al ‘Alamah Asy Syinqithi dan Syaikh Al ‘Alamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahumullahu jami’an yang mereka berpendapat bahwa umroh adalah wajib. Dalil mereka adalah :

1. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umroh.” (HR Imam Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullahu dalam kitab Irwa’ul Ghalil)

2. Atsar dari Abdullah bin Umar Ibnu Al Khatthab. “Tidak ada suatu kewajiban atas hamba-hamba Allah (terkait kedantangan ke masjidil haram) kecuali haji dan umroh. Dua amalan ini adalah wajib atas yang mampu untuk melakukannya. Barangsiapa yangkemudian melakukan umroh berikutnya atau haji berikutnya maka itu adalah suatu amalan tathawwu’. (HR. Al Imam Ibnu Abi Syaibah, Daruquthni, Al Hakim, Al Baihaqi )

3. Astar dari Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ad Daruquthni dan Al Hakim serta Al Baihaqi beliau mengatakan : “Umroh hukumnya wajib sama seperti wajibnya haji bagi yang mampu melakukannya.”

4. Juga diriwayatkan dari dari Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Al Imam Abi Syaibah, Ad Daruquthni dan Al Hakim serta Al Baihaqi beliau mengatakan : “Bahwa hajid an Umroh, keduanya wajib atas seluruh manusia (dalam batasan kemampuan untuk melakukannya). (Juga di riwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari secara Mu’allaq dari Ibnu Abba. Juga di riwayatkan dari Ash Shahabil jalil Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As silsilah Adh Dhoifah bahwa pernyataan ini Mauquf dari Zaid bin Tsabit.

5. Abu Razzin Al Uqaili radhiyallahu ‘anhu beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يا رسول الله أن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج ولا العمرة ولا الظعن قال حج عن أبيك واعتمر

“Wahai Rasulullah sesungguhnya ayahku seseorang yang sudah tua renta, beliau tidak mampu untuk berhaji dan tidak mampu untuk umroh dan tidak mampu untuk bepergian, beliau bersabda : lakukanlah haji atas nama ayahmu dan lakukan umroh atas nama ayahmu”

Disebutkan oleh jumhur ulama antara lain Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Ibnu Qudamah, Ibnu ‘Utsaimin dan Imam Al Albani bahwa kewajiban ini atas orang yang mampu secara materi dan secara fisik bersifat ‘alal-faur (segera/ tidak boleh ditunda)